Kamis, 21 Juni 2012

Makalah WADIAH


Oleh: Jarkasih
 BAB I
PENDAHULUAN

A.      Labar Belakang
Latar belakang penulisan makalah ini, yaitu dengan banyak melihat fenomena yang ada sekitar kita dimana salah satunya yang akan kami bahas dalam makalah ini, yaitu penitipan barang (wadi’ah). Seiring dengan bermunculannya lembaga-lembaga penitipan barang dapat sedikit membantu ketika seorang ingin menitipkan barangnya dalam waktu yang cukup lama, mereka tidak khawatir dengan keadaan keadaan barang yang ditinggalkannya itu, sebab dalam lembaga tersebut telah menjamin akan keaslian barangnya. Namun dengan sedikit mengeluarkan biaya.

Kita lihat di masyarakat sangatlah tidak  asing lagi dalam hal penitipan barang, atau menitipkan sebuah barang kepada orang lain.  Seseorang berani menitipkan barang kepada orang lain hanya yang biasa di kenal saja, sungguh belum tentu seorang yang kita kenal tersebut bisa menjaga barang kita dengan baik, bisa saja terjadi kelalaian atau kerusakan ketika barang yang dititipkan tersebut dipakai oleh seorang yang diberikan amanah tersebut, dengan alasan yang banyak dan dengan kedekatannya seorang penitip kepada seorang yang diberikan amanah, kemudian seorang yang diberi amanah tersebut menipu, ketika terjadi kerusakan pada barang yang dititipkan kepadanya. Dengan alasan apapun bisa di terima si penitip karena si penitip yakin bahwa orang yang  dikenal dan dekat denganya tidak mungkin melakukan penipuan terhadap dirinya.   
Hal ini yang sering dilalaikan oleh seorang yang diberikan amanah, menganggap barang yang dititipkan tersebut adalah barang yang bisa dipakainya juga. Ternyata tidak seperti itu, seorang yang diberikan amanah hanya berhak menjaga barang yang di titipkan kepadanya. dan ketika si penitip memperbolehkannya atau memberikan izin memakai barang yang dititipkan tersebut. Barulah seorang yang diberikan amanah tersebut memakainya dengan ketentuan selalu menjaga, memperbaiki ketika terjadi kerusakan, dan mengatakan dengan sebenarnya kepada si penitip ketika barang akan diserahkan kembali kepada si penitip. Jangan sekali-kali mengharap apapun, baik upah menjaga, dan upah-upah lainnya kepada si penitip dan menjagalah dengan baik dan ikhlas. Karena belum tentu serang yang menitipkannya tersebut orang yang memiliki cukup uang untuk mengganti jasa tersebut. dan kepada seorang yang menitipkan barang kepada orang lain hendaklah sadar akan jasa orang yang rela riberikan amanah tersebut.
Oleh karena itu, fenomena yang demikian perlulah diperhatikan oleh seorang yang diberikan amanah dan pemberi amanah. Mempelajari apa yang harus di kerjakan ketika seorang diberikan atau memberikan barang titipan(wadi’ah) kepada orang lain. Memilih jalan yang lebih aman dengan menitipkan barang pada lembaga-lembaga penitipan barang yang ada di sekitar kita.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas penulis merumuskan beberapa permasalah yang akan di bahas pada bab pembahasan di belakang diantaranya yaitu:
a.       Apa definisi wadi’ah dan dasar hukumnya?
b.      Apakah syarat dan rukun wadi’ah?
c.       Berapakah macam-macam wadi’ah?
d.      Apakah Hukum Menerima Benda titipan (wadi’ah)?
e.       Apakah wadiah yad-amanah dapat berubah menjadi wadiah yad-damannah?
f.       Bagaimana dengan pendapat para ulama’ mengenai pengambilan laba dalam wadiah?
g.      Bagaiaman dengan pendapat para ulama’ dengan adanya jaminan wadi’ah?
h.      Bagaimana dengan aplikasi LKS dan fatwa DSN?

C.    Tujuan
Rumusan masalah diatas memberikan penulis pemikiran bahwa tujuan dari  penulisan makalah ini yaitu:
a.       Agar mengetahu  definisi  wadi’ah dan dasar hukumnya
b.      Agar mengetahui syarat dan rukun wadi’ah
c.       Agar mengetahui macam-macam wadi’ah
d.      Agar mengetahui hokum menerima benda titipan (wadi’ah)
e.       Agar mengetahui perubahan wadi’ah yad-amanah menjadi wadiah yad-dhamanah
f.       Agar memperjelas pendapat para ulama mengenai pengambilan laba dalam wadi’ah?
g.      Agar mengetahui pendapat para ulama’ adanya jaminan wadi’ah
h.      Agar mengetahui dengan jelas aplikasi LKS dan fatwa DSN

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian dan Hukum dan dalil Wadi’ah
1.      Pengertian Wadi’ah
a.         Secara Etimologi
Secara etimologi wadi’ah ( الودعة) berartikan titipan (amana) Coba kita lihat di beberapa surat dalam alqur’an  Allah memaknakan wadi’ah dengan amanah.
b.        Secara terminology
Secara terminology atau definisi istilah menurut mazhab hanafi, maliki dan hambali. Ada dua definisi wadi’ah yang dikemukakan ulama fikih[1]
Ulama mazhab hanafi mendefinisikannya:
تسليط الغير على حفظ ماله صريحا أ و دلا لة
“mengikutsertakan orang lain dalam memelihara harta, baik dengan uangkapan yang jelas maupun melalui isyarat”.
Umpama seraoang mengatakan: “saya titpkan tas saya ini pada anda”. Lalu dijawab “saya terima”. Dengan demikian, sempurnalah akad wadi’ah. Mungkin juga dengan cara: “saya titipak tas saya ini pada anda” tetapi orang yang dititipi diam saja (tanda setuju).
Mazhab Syafi’i, Maliki dan Hambali (jumhur ulama) mendefinisikannya:
تو كيل في حفظ مملوك على وجه مخصوص
“mewakilkan orang lain untuk memelihara harata tertentu dengan cara tertentu”.
c.         Menurut istilah wadi’ah dapat diartikan sebagai akad yang dilakukan oleh kedua belah pihak orang yang menitipkan barang kepada orang lain agar dijaga dengan baik.
d.        Di dalam ensiklopedi hokum islam mengenai wadi’ah secara bahasa  bias dimaknai meninggalkan atau meletakkan, yaitu meninggalkan atau meletakkan sesuatu kepada orang lain untuk menjaganya dengan baik. Sedangkan menurut istilah ialah memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada orang lain untuk menjaga barangnya dengan cara terang-tengan kepada si pemilik barang tersebut.
2.      Hukum dan Dalil Wadi’ah
Ulama fikih sependapat, bahwa wadi’ah adalah sebagai salah satu akad dalam rangka tolong menolong antara sesame manusia.
Sebagai landasannya firman Allah SWT.:
3.      ¨Î !$# öNä.ããBù'tƒ br& (#rŠxsè? ÏM»uZ»tBF{$# #n<Î) $ygÎ=÷dr& ...... tÇÎÑÈ
“sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya .... (an-Nisa: 58)
Menurut para mufasir, ayat ini berkaitan dengan penitipan kunci Ka’bah kepada Usman bin Talhah (seorang sahabat Nabi) sebagai amanat dari Allah  SWT.
Dalam ayat lain disebutkan:
....فليؤد الذي اؤتمن اما نته .... ÇËÑÌÈ
“..... Hendaklah orang dipercayai itu menunaikan amanat .... (al-Baqarah: 283).
Di dalam hadits Rasulullah disebutkan:
اد الأمانة االى من ائتمنك ولا تخن من خنك (رواه أبو داود والتر ميذى والحاكم)
“Hendaklah amanat orang yang mempercayai anda dan janganlah anda menghianati orang yang menghianati anda.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Hakim).
Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, para ulama sepakat mengatakan, akad wadi’a (titipan) hukumnya mandub (disunatkan), dalam hal tolong-menolong sesama manusia. Oleh sebab itu Ibnu Qudamah (ahli fikir mazhab hanafi) menyatakan bahwa sejak zaman Rasulullah sampai generasi ke gerasi berikutnya, wadi’ah telah menjadi ijma’ ‘amali (الا جماع العملى), yaitu telah menjadi keperilaku kebiasaan dengan menitipkan barang kepada orang lain.

B.     Syarat dan Rukun Wadi’ah
A.    Rukun Wadi’ah
Menurut ulama ahli fiqh imam abu hanafi mengatakan bahwa rukun wadi’ah hanyalah ijab dan qobul. Namun menurut jumhur ulama mengemukakan bahwa rukun wadi’ah ada tiga yaitu:
1.      Orang yang berakad
2.      Barang titipan
3.      Sighah, ijab dan kobul
B.     Syarat
1.      Orang yang berakad
Orang yang berakad hendaklah orang yang sehat (tidak gila) diantaranya yaitu:
a.       Baligh
b.      Berakal
c.       Kemauan sendiri, tidak dipaksa
Dalam mazhab Hanafi baliqh dan berakal tidak dijadikan syarat dari orang yang sedang berakad, jadi anak kecil yang dizinkan oleh walinya boleh untuk melakukan akad wadi’ah ini.
2.      Barang titipan
Barang yang dititipkan harus jelas dan dapat dipegang atau dikuasai, maksudnya ialah barang itu haruslah jelas identitasnya dan dapat dikuasai untuk dipelihara.
3.      Sighah (akad)
Syarat sighah yaitu kedua belah pihak melafazkan akad yaitu orang yang menitipkan (mudi’) dan orang yang diberi titipan (wadi’)

C.    Macam-macam Wadi’ah
a.       Wadi’ah yad-amanah
Para ulama ahli fiqh mengatakan bahwa akad wadi’ah bersifat mengikat kedua belah pihak. Akan tetapi, apakah orang yang tanggung jawab memelihara barang itu bersifat ganti rugi (dhamaan=الضمان).
Ulama fikih sepakat, bahwa status wadi’ah bersifat amanat, bukan dhamaan, sehingga semua kerusakan penitipan tidak menjadi tangggung jawab pihak yang menitipi, berbeda sekiranya kerusakan itu disengaja oleh orang yang dititipi, sebagai alasannya adalah sabda Rasulullah:
ليس على المسودع غير المغل ضمان (رواه البيهقى و الدار قطنى)
“orang yang dititipi barang, apabila tidak melakukan pengkhianatan tidak dikenakan ganti rugi.” (HR. Baihaqi dan Daru-Quthni)
Dalam riwayat lain dikatakan:
(قطنيى الداررواه) مؤتمن على لاضمان
“tidak ada ganti rugi terhadap orang yang dipercaya memegang amanat.” (HR. Daru-Quthni”.
Dengan demikian, apabila dalam akad wadi’ah ada disyaratkan untuk ganti rugi atas orang yang dititipi maka akad itu dianggap tidak sah. dan orang yang dititipi pun juga harus menjaga amanat dengan baik dan tidak menuntut upah (jasa) dari orang yang menitipkan.
b.      Wadi’ah yad-dhamanah
Akad ini bersifat memberikan kebebasan kepada pihak penerima titipan dengan atau tanpa seizin pemilik barang dapat memanfaatkan barang dan bertanggung jawab terhadap kehilangan atau kerusakan pada barang yang dinggunakannya.
Gambar2.1
Sekema wadiah yad-Amanah



 






Gambar 2.2
Skema wadi’ah yad-Dhamanah


Text Box: PemanfaatanText Box: Bonus
 










D.    Hukum Menerima Benda Titipan
Hukum menerima benda titipan dapat di bagati atas 5 yaitu:
1.      Haram
Hukum menerima benda titipan dapat berhukum haram jika orang yang dititipi yakin dirinya akan berkhiyanat.
2.      Makruh
Hukum menerima benda titipan dapat berhukum makruh jika orang yang dititipi khawatir akan berkhianat (was-was).
3.      Mubah
Hukum menerima benda titipan dapat berhukum mubah (boleh) jika seorang mengatakan kepada si penitip bahwa dirinya khawatir akan berkhianat namun si pentitip yakin dan tetap mempercayai bahwa orang tersebut dapat diberikan amanah.
4.      Wajib
Hukum menerima benda titipan dapat berhukum wajib jika tidak ada orang jujur dan layak selain dirinya.

E.     Wadi’ah yad-Amanah Berubah Menjadi Wadi’ah yad-Dhamanah
Kemungkinan perubahan sifat amanat berubah menjadi wadi’ah yang bersifat dhamanah (ganti rugi). Yaitu kemungkinan-kemungkinan tersebut adalah:[2]
1.      Barang itu tidak dipelihara oleh orang yang dititipi. Dengan demikian halnya apabila ada orang lain yang akan merusaknya, tetapi dia tidak mempertahankannya, sedangkan dia mampu mengatasi (mencegahnya).
2.      Barang titipan itu dimanfaatkan oleh orang yang dititipi, kemudian barang itu rusak atau hilang. Sedangkan barang titipan  seharusnya dipelihara, bukan dimanfaatkan.
3.      Orang yangdititipi mengingkari ada barang titipan kepadanya. Oleh sebab itu, sebaiknya dalam akad wadi’ah disebutkan jenis varangnya dan jumlahnya ataupun sifat-sifat lain, sehingga apabila terjadi keingkaran dapat ditunjukkan buktinya.
4.      Orang yang menerima titipan barang itu, mencampuradukkan dengan bangan pribadinyam sehingga sekiranya ada yang rusak atau  hilang, maka sukar untuk menentukannya, apakah barangnya sendiri yang rusak (hilang) atau barnag titipan itu.
5.      Orang yang menerima titipan itu tidak menepati syarat-syarat yang dikemukakan oleh penitip barang itu, seperti tempat penyimpanan dan syarat-syarat lainnya.




F.     Keuntungan (Laba) dalam Wadi’ah
Beberapa ulama berpendapat mengenai pengambilan laba atau bonus dalam wadi’ah, yaitu:
1.      Menurut ulama syafi’iyah, tidak boleh mengambil keuntungan atau bonus yang tidak disyaratkan diawal akad ketika memanfaakan barang yang dititipkan dan akadnya bisa dikatakan gugur.
2.      Menurtu ulama maliki dan hambali dapat menerima bonus yang diberikan oleh orang yang dititipi.
3.      Sedangkan imbalan yang diterima dari bank berupa bunga, maka ulama Hanafiah mengatakan keuntungan tersebut harus disedekahkan, sedangkan menurut ulama maliki keuntungan tersebut harus diserahkan ke baitul mal (kas negara).

G.    Jaminan Wadiah
1.      Menurut ulama malikiyah, sebab adanya jaminan adalah:
a.       Menitipkan barang selain penerimaan titipan (wadi’) tanpa uzur sehingga ketika minta dikembalikan, wadiah sudah hilang
b.      Pemindahan wadi’ah dari negara kenegara lain berbeda dengan pemindahan dari rumah kerumah
c.       Mencampur adukkan eadiah dengan sesuatu yang tidak bisa dibedakan
d.      Pemanfaatan wadiah
e.       Meletakkan titipan pada tempat yang memungkinkan untuk hilang atau rusak.
f.       Menyalahi cara pemeliharaan.
2.      Menurut ulama syafi’iyah sebab adanya jaminna adalah:
a.       Meletakkan wadiah pada orang lain tanpa izin
b.      Meletakkan pada tempat yang tidak aman
c.       Pemindahan ketempat yang tidak aman
d.      Melalaikan kewajiban menjaganya
e.       Berpaling dari menjaga sehingga barang rusak
f.       Memanfaatkan wadiah





3.      Menurut ulama hanabilah, sebab adanya jaminan adalah:
a.       Menitipkan pada orang lain tanpa ada uzur
b.      Melalaikan pemeliharaan barang
c.       Menyalahi pemeliharaan yang telah disepakati
d.      Mencampurkan dengan barang yang lain sehingga sulit untuk dihilangkan
e.      Pemanfaatan barang

H.    Aplikasid alam LKS dan Fatwa DSN
Beberapa aplikasi LKS dan fatwa DSN antara lain sebagai berikut:
1.      Wadiah sering dipraktekkan dan dikembangkan oleh bank syariah
2.      Priduk yang ditawarkan bank syariah menggunakan konsep wadiah biasanya berkaitan dengan penghimpunan dana (found), seperti giro, SWBI, tabungan, Save deposit box (SDB), dan deposito, deposit memakai prinsip mudharabah, sedangkan yang lainnya menggunakan prinsip wadiah.
3.      Wadiah yad-Damanah bisa dikatakan qordul hasan
4.      Giro wadiah adalah giro yang dijalankan berdasarkan akad wadi’ah, yaitu  murni tidap saat dapat diambil jika di penitip
5.      Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang giro No:01/DSN-MUI/IV/2000
6.      Fatwa Dewan Syariah Nasional tentang No:02/DSN-MUI/IV/2000
7.      Tabungan wadiah adalah tabungan yang dijalankan berdasarkan akad wadiah.
8.      Sertifikat Wadiah Bank Indonesia dan Fatwa Dewan Syariah Nasional No:36/DSN-MUI/X/2002
9.      Penghapusan SWBI menjadi Ijarah. Bank Syariah myang menempatkan dana di BI telah berperan mendukung stabilitas moneter, dan diberi upah oleh BI sebesar misalnya 8,78%
10.  Dalam perbankan juga terdapat save deposit box dengna FDSN No:24/DSN-MUI/III/2002







BAB III
P E N U T U P

A.      Kesimpulan
1.         Yang dimaksud wadiah secara istilah dapat dikatakan akad dalam hal penitipan barang. Sedangkan dalil wadiah berdasarkan dalil al-qur’an dan hadits.
2.         Rukun wadiah yaitu, orang yang berakad, barang titipan, sighah ijab dan kobul, sedangkan syarat wadiah diantaranya yaitu: baligh, berakal, kemauan diri sendiri 
3.         Ada dua macam wadiah yaitu wadiah yad-Amanah dan Wadiah yad-Damanah
4.         Hukum menerima benda titipan dapat berubah menjadi empat hukum yakni, sunah, makruk, haram, mubah
6.      Wadiah yad-Amanah dapat berubah menjadi wadiah yad-Dhamanah dengan sebab diantaranya yaitu Orang yang menerima titipan itu tidak menepati syarat-syarat yang dikemukakan oleh penitip barang itu, seperti tempat penyimpanan dan syarat-syarat lainnya.
5.         Pendapat para ulama yakni memperbolehkan mendapatkan laba dengan akad dan syarat yang telah disepakati bersama
6.         Adanya jaminan menurut beberapa ulama diantaranya yaitu pemanfaatan barang titipan (wadiah)
7.         Aplikasi LKS dan Fatwa DSN yaitu diantaranya dengan adanya Sertifikat Lembaga Keuangan Syariah dan Fatwa Dewan Syariah No:36/DSN-MUI/X/2002   
B.       Tambahan dari tanya jawab diskusi makalah
1.      Zainal, Pendapat menitipkan barang makanan untuk dijual kemudian terjadi kerusakan atas ketidak sengajaan? hukum menitipkan barang seperti ini menurut pendapat saya masuk dalam kategori wadi’ah yad amanah jadi si penerima titipan hanya menjualkan apabila diperintahkan untuk menjual, di simpan apabila hanya disimpan saja, dan apabila terjadi kerusakan maka orang yang dititipi tidak mengganti kerugian akibat kerusakan makanan, namun semua itu tergantung pada akad antara kedua belah pihak
2.      Nurain, contoh wadiah? seorang menipkan barang berupa motor karena orang tersebut ingin pergi keluar kota, dan si penitip berkata, kalau mau dipakai pakai saja, maka hal ini apabila kita manfaatkan maka jika terjadi sesuatu kita harus menggantinya kembali, dan menjadikan barang seperti semula ketika terjadi kerusakan. Apabila tidak dapat kembali seperti semua, berkatalah jujur kepada si penitip bagaimana baiknya
3.      Mustainnah, Jaminan waktu hingga dapat dimanfaatkan? Untuk penitipan barang yang sifatnya ada pemanfaatan barang maka batas waktu tidak bisa ditentukan sekian, tergantung pada akad antara kedua belah pihak, namun untuk yang sifatnya wadiah yang tidak ada pemanfaatan biasanya ada batas waktu yang telah ditentukan. Contoh, saya titip baran gini, ntar minggu depan saya ambil,
4.      Emma, Apakah  akad asuransi dan mudorobah termasuk wadiah,? Ya, keduanya menurutsaya bisa digolongkan pada kategori wadiah yad damanah yang mana ada nasabah ada pengelola, jadi ketika ada keuntungan maka mereka akan membagi sesuai persentasi,
5.      Fachrudin, kasus penitipan anak? Untuk kasus penitipan ini dia sifatnya wadiah yad amanah yaitu menjaga  anak dengan sebaik mungkin, dan biasanya penitipan anak sudah melampirkan syarat dan ketentuan agar tidak dapat tidak terjadi hal tidak terduga kepada badan penitipan barang.
6.      Pahri, Pendapat kalau orang yang menitipkan motor? untuk pertanyaan dari saudara fahri ada kesamaan antara pertanyaan dengan saudari Nurain rumakwai
7.      Angger, Pentipan uang? Sifat ketika diberikan titipan uang untuk diberikan kesalah seorang termasuk kategori wadi’ah yad amanah, jadi hanya berhak menjaga, dan ketika terjadi kehilangan, tidak ada hak untuk menggantinya, seperti di dalam hadis di pembahasan, namun bukan berarti tidak mengganti, tetapi setidaknya ada rasa tanggung jawab, dan apabila tidak dapat mengganti, maka berkatalah jujur insya alloh akan dimaafkan oleh si penitip, atau orang mendapatkan titipan.
8.      Rahima, Syarat Wadiah ? untuk syarat wadiah hendaklah barang yang dititipkan berupa barang yang halal baik dari cara maupun fisik barang, itu yang paling utama ketika melakukan transaksi wadiah.
9.      Haryanto, Kategori barang yang dapak di titipkan, untuk kategori barang paling utama adalah barang tersebut berupa barang halal, kemudian yang bisa dititipakn yaitu, benda mati bisa berupa emas, kendaraan, lahan, uang, dan lain sebagainya. Untuk benda hidup berupa, hewan, manusia, tumbuhan, dan lain sebagainya.
10.  Astrid garis besar wadiah? Wadiah secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu wadiah yad amanah yang sifatnya menjaga jika terjadi kerusakan maka tidak wajib mengganti, dan wadiah yad damanah yang sifatnya menjaga dan memanfaatkan jadi jika terjadi kerusakan wajib mengganti, dan membagi hasil.

DAFTAR PUSTAKA

Ali M. Hasan. 2003. Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh mu’amalat). Rajawali Pers. Jakarta.
Ghazaly Rahman Abdul, dkk. 2010. Fiqh Muamalat. Kencana. Jakarta
Muslich Wardi Ahmad. 2010. Fiqh Muamalat. Amzah. Jakarta
Nas’adi dan Ghufron. 2002. Fiqih Muamalat Kontekstual. Edisi ke-1. Rajawali Pers. Jakarta.
Nuhayati Sri, Wasilah. 2008. Akuntansi Syariah di Indonesia. Salemba Empat. Jakarta.




[1] M. Ali Hasan. Berbagai macam transaksi dalam islam (fiqh muamalat). hlm. 245-246
[2] M. Ali Hasan. Berbagai macam transaksi dalam islam (fiqh muamalat). hlm. 249-250

2 komentar: